5 Bahaya membungkus makanan pakai kertas cetak, picu kanker

28 / 07 / 2021 12:05 WIB Shahfara Raida
5 Bahaya membungkus makanan pakai kertas cetak, picu kanker
foto ilustrasi: pixabay.com

Brilio.net - Sudah sejak lama kertas cetak kerap digunakan sebagai pembungkus makanan. Salah satunya adalah untuk membungkus atau meniriskan minyak gorengan. Sebab, kertas cukup mudah menyerap minyak dan juga dianggap ramah lingkungan.

Padahal, kertas cetak seperti koran dan berkas-berkas lainnya tidak direkomendasikan untuk digunakan pada makanan. Baru-baru ini, media sosial dihebohkan dengan viralnya kertas hasil swab Covid-19 yang digunakan sebagai bungkus gorengan.

Pasalnya, tes swab tersebut menunjukkan hasil positif Covid-19 yang nampaknya membuat banyak orang bergidik ngeri. Unggahan tersebut pertama kali dibagikan oleh akun Instagram @infodepok_id. Unggahan tersebut pun langsung menuai beragam respon dari warganet.


5 Bahaya membungkus makanan  berbagai sumber

foto: Instagram/@infodepok_id

"Ini kita tadi beli gorengan bungkus gorengan bekas dokumen hasil SWAB positif. Lah kita makan gorengan jadi gimana gitu jadi negeri-ngeri sadap gitu," tulis akun tersebut dalam keterangan captionnya.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Depok Rani Martina sudah lama mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan kertas cetak sebagai pembungkus makanan. Sebaiknya, gunakan tempat khusus kemasan makanan.

"Sudah kita sosialisasikan sejak dulu, kertas hasil cetakan tidak dapat dijadikan pembungkus makanan, sudah ada tempat untuk pengemasan makanan," ungkap Rani Martina dikutip dari liputan6.com.

Anjuran untuk tidak menggunakan kertas cetak sebagai pembungkus makanan ini bukan tanpa alasan, lho. Sebab, kertas cetak yang digunakan untuk makanan ini bisa membahayakan kesehatan. Berikut lima bahaya membungkus makanan pakai kertas cetak, dilansir Brilio Food dari berbagai sumber, Rabu (28/7).

1. Bisa menyebabkan kanker.

5 Bahaya membungkus makanan  berbagai sumber

foto: pixabay.com

Kertas cetak seperti koran sudah pasti mengandung tinta untuk tulisan yang ada di dalamnya bukan? Nah, tinta inilah yang bisa berisiko sebagai penyebab kanker. Sebab, tinta mengandung sejumlah bahan kimia yang bisa menempel pada makanan.

Di samping itu, dilansir dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, lipi.go.id, penggunaan kertas koran, kertas bekas cetakan, maupun kertas daur ulang juga berbahaya karena tinggi kandungan mikroorganisme. Selain bisa menyebabkan kanker, bisa juga merusak hati dan kelenjar getah bening, mengganggu sistem endokrin dan reproduksi, serta meningkatkan risiko asma dan mutasi gen.

2. Mengganggu alat pencernaan.

5 Bahaya membungkus makanan  berbagai sumber

foto: pixabay.com

Kertas cetak biasanya mengandung diisobutyl phthalate dan mikroorganisme patogen lainny, seperti bakteri dan jamur yang bisa mengganggu alat pencernaan. Sehingga, risikonya seseorang bisa terkena radang saluran kantung kemih dan TBC.

3. Permasalahan paru-paru dan ginjal.

5 Bahaya membungkus makanan  berbagai sumber

foto: pixabay.com

Jika kandungan tinta pada kertas cetak tertelan, ternyata bisa juga membahayakan paru-paru dan ginjal, lho. Kandungan ini biasa dikenal juga dengan grafit atau mineral karbon yang beracun untuk tubuh. Jika kandungan ini menumpuk di tubuh, bisa berisiko membahayakan paru-paru dan ginjal.

4. Mengganggu sistem reproduksi.

5 Bahaya membungkus makanan  berbagai sumber

foto: pixabay.com

Sistem reproduksi wanita dapat berisiko berbahaya jika terlalu sering mengonsumsi makanan yang dibungkus dengan kertas cetak. Sebab, kertas cetak maupun kertas daur ulang lain yang bukan khusus untuk makanan mengandung benxophenones dapat mengganggu siklus reproduksi, terutama pada wanita.

5. Gangguan hormon.

5 Bahaya membungkus makanan  berbagai sumber

foto: pixabay.com

Selain sistem reproduksi, kertas cetak juga dapat berbahaya dan menyebabkan gangguan pada hormon. Kondisi ini bisa jadi hormon yang dihasilkan kurang atau malah berlebihan. Dampaknya pun bermacam-macam, seperti siklus menstruasi menjadi terganggu, muncul jerawat, perubahan mood, dan masih banyak lagi.

(brl/mal)
SELENGKAPNYA

Video

SELENGKAPNYA
SELENGKAPNYA