5 Mitos tentang garam, jenis himalaya yang paling sehat?

21 / 07 / 2021 18:04 WIB Shahfara Raida
5 Mitos tentang garam, jenis himalaya yang paling sehat?
pixabay.com

Brilio.net - Garam merupakan salah satu bumbu masakanyang nampaknya wajib ada di dapur. Makanan dimasak tanpa garam, bisa jadi hambar dan kurang menambah selera makan. Maka dari itu, makanan biasanya jauh lebih nikmat jika ditambahkan garam.

Misalnya telur dadar yang hanya dibumbui garam saja sudah nikmat, bukan? Meskipun makanan enak biasanya juga dibantu oleh peran bumbu-bumbu lainnya. Namun, garam termasuk yang paling mudah didapat dan sering digunakan.

Berbicara soal garam, kini tak sedikit orang beralih dari garam biasa ke garam jenis lainnya seperti himalaya. Alasannya karena garam himalaya dianggap lebih sehat dibanding garam biasa. Orang yang sedang diet pun juga kerap memakai garam himalaya dengan alasan tersebut.

Padahal hal tersebut belum tentu benar, lho. Berbagai mitos lain tentang garam masih banyak yang percayai oleh sejumlah orang. Berikut lima mitos tentang garam, dilansir Brilio Food dari berbagai sumber pada Rabu (21/7).


1. Jangan mengonsumsi garam karena menyebabkan penyakit.

5 Mitos tentang garam  Pixabay

foto: pixabay.com

Informasi mengenai larangan mengonsumsi garam karena bisa menyebabkan penyakit masih banyak beredar. Padahal dilansir dari health.qld.gov.au, tubuh manusia membutuhkan garam untuk menyeimbangkan aliran dan tekanan darah ke saraf dan otot.

Namun, konsumsi garam per harinya tetap perlu diperhatikan. Dilansir dari eatforhealth.gov.au, orang dewasa direkomendasikan mengonsumsi garam tidak lebih dari 5 gram atau kurang dari 1 sendok teh saja per hari.

2. Jenis garam seperti himalaya lebih baik untuk kesehatan.

5 Mitos tentang garam  Pixabay

foto: pixabay.com

Dewasa ini, jenis garam semakin beragam pula di pasaran. Jenis garam himalaya dianggap paling sehat dibanding jenis garam biasa (garam dapur). Konon katanya dikarenakan kandungan mineralnya rendah. Padahal semua jenis garam sebenarnya sama saja. Sama-sama sehat jika secukupnya dan tidak sehat jika berlebihan.

3. Makanan mengandung garam selalu asin.

5 Mitos tentang garam  Pixabay

foto: pixabay.com

Sejumlah orang mempercayai kalau makanan yang tinggi akan kandungan garam itu rasanya selalu asin. Padahal belum tentu selalu seperti itu, lho. Ada makanan yang asin, namun kandungan garamnya tidak terlalu tinggi. Sebaliknya, ada pula makanan dengan kandungan garam tinggi tetapi nggak terasa begitu asin.

Contohnya makanan olahan atau kemasan. Jenis makanan ini biasanya sudah ditambah bahan lain untuk mengurangi rasa asin. Sehingga seolah-olah makanan ini tidak mengandung garam yang tinggi. Makanya, saat membeli makanan, perlu dicermati komposisinya, ya!

4. Banyak mengonsumsi garam setelah olahraga itu baik.

5 Mitos tentang garam  Pixabay

foto: pixabay.com

Saat berolahraga, tubuh akan mengeluarkan keringat. Keringat ini mengandung garam di dalamnya. Selain melalui keringat, tubuh pun mengeluarkan garam melalui urin. Maka dari itu, ada pendapat jika mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung garam itu baik dilakukan usai berolahraga.

Bahkan, banyak produk minuman yang dipasarkan untuk menggantikan mineral dan garam pada tubuh yang hilang setelah berolahraga. Padahal mengonsumsi air putih dan makanan sehat sudah bisa menggantikan nutrisi seperti mineral dan garam yang hilang usai aktivitas apapun.

5. Tekanan darah tinggi selalu disebabkan garam.

5 Mitos tentang garam  Pixabay

foto: pixabay.com

Saat tekanan darah tinggi naik, sebenarnya penderita tidak akan mengetahui faktor penyebabnya sebelum melakukan tes. Namun tak sedikit orang menyebut tekanan darah naik akibat mengonsumsi banyak garam. Padahal belum tentu anggapan itu benar karena penyebab darah tinggi itu bermacam-macam.

(brl/lut)
SELENGKAPNYA
SELENGKAPNYA